Muslimah yang Mu’minah

Seorang wanita cantik berbusana muslim nan anggun datang kepadaku, suatu malam menjelang Ramadhan. Hal ini bukan seperti yang biasanya terjadi.  Aku begitu mengenalnya, dia begitu arif, santun, dan lembut dalam setiap tutur kata dan tingkah laku nya. Selalu tersenyum dan menyapa setiap orang yang berpapasan dengannya.

Kami memang berteman sudah sejak lama. Tapi waktu lah yang selalu menghalangi dan membatasi kuantitas pertemuan kami. Dia bekerja di sebuah perusahaan swasta, yang aku juga sudah lupa nama dan alamatnya. Dia juga menjadi ibu rumah tangga dengan satu orang anak laki-laki.  Karena aku juga bekerja dengan jam kerja yang gak beda jauh dengannya, maka kami menjadi jarang bersua. Mungkin hanya bisa 2 sampai 3 kali sebulan. Tapi kami selalu berusahan tetap saling menghubungi dan memberi kabar.

Kami saling berbagi cerita, tentang pekerjaan kami, anak-anak kami, kegiatan sosial kami, juga tentang suami. Aku menjadi terperangah, heran, bingung, dan seperti tak percaya. Ketika dia tiba-tiba meneteskan air mata saat bercerita tentang keadaan dia yang sesungguhnya.

Dia tak lagi seperti dia tampak di mata ku, dia sudah jauh berubah, aku masih tak percaya. Ternyata dia begitu lama menahan beban berat di hati nya. Berat…amat berat…mungkin jika aku jadi dia, aku tak kan sanggup menanggungnya demikian lama. Inilah kisahnya:

Setiap pagi, setelah subuh, dia belanja ke warung untuk menyiapkan sarapan dan makan siang untuk keluarganya. Ya…aku tahu, dia melakukannya tiap pagi. Setelah pekerjaan rumahnya beres, bergegas ia pergi bekerja. Hingga menjelang maghrib ia baru tiba kembali ke rumah. Langsung menyiapkan makan malam, dan membereskan pekerjaan rumah yang belum tersentuh semenjak pagi. Melayani suami menjadi kewajiban yang tak pernah ia tinggalkan. Begitu dan begitu setiap hari, selama puluhan tahun dia mengabdi, untuk keluarganya. Melakukannya dengan tulus tanpa pernah putus asa dan mengeluh.
Dia bekerja di luar rumah, karena dia harus bekerja. Harus…??? Ya, karena dia juga menopang keuangan dan ekonomi keluarga kecilnya. Semua yang dia dapat dari hasil dia bekerja tak pernah untuk menuruti keinginan-keinginan dan mimpi-mimpi nya. Hanya untuk menopang hidup keluarganya. Untuk menutup hutang-hutang suaminya. Untuk kebutuhan hidup sehari-hari keluarganya (karena tak pernah sepeser pun ia terima gaji/ pengahasilan suaminya). Juga untuk banyak hal yang bukan disebabkan karena ulah dan perbuatannya. Tapi tetap dilakukannya. Bahkan selalu dalam tekanan, ancaman, hinaan, dan bahkan kadang perlakuan kasar dan arogansi seorang suami dia terima. Aku menjadi sangat aneh….sungguh….tak percaya. Kenapa dia bisa??? Dibuat tak berdaya???
Dipaksa mengakui kesalahan yang tak pernah dia buat, difitnah begitu keji dan disebarkan fitnah itu ke semua orang oleh suaminya sendiri. Bahkan masih tanpa dosa, memberinya hanya 2 pilihan: 1) Jika dia ingin sang suami yang menggugat cerai, maka dia harus pergi dari rumah (yang dia beli dari hasil jerih payahnya sendiri…..????) tanpa membawa apa-apa. Atau pilihan ke-2: Jika dia (istri) yang menggugat cerai, maka  sang suami minta sebagian dari harta “gana-gini” mereka. Harta gana-gini yang hanya dimiliki dan dikumpulkan oleh seorang istri yang lemah dan tak berdaya selama belasan tahun….???? Apa masih tetap disebut harta gana-gini???? Mungkin laki-laki ini sudah sakit jiwa (batinku…)
Tapi kenapa dia masih saja tetap setia pada suaminya???, bahkan ketika suatu hari dia tahu bahwa ternyata dia telah ditipu sekaian lama (sepanjang usia perkawinannya). Bahwa sebelumnya sang suami (yang dulu) tercinta telah pernah menikah dan memiliki anak sebelum menikahinya…….WHAT…..?????!!!!!…Seketika tubuh ku gemetar mendengarnya, seiring air matanya yang kian deras menetes, aku terpaku…tak berdaya…merasakan kesedihan panjangnya. Kurang apa lagi wanita di depan ku ini??? Dia terlihat begitu sempurna sebagai seorang istri dan ibu (batin ku merintih). Laki-laki macam apa yang tega menyakitinya begitu rupa???
Hingga sebuah kalimat terucap dari bibirku: “Kita juga berhak untuk bahagia…jangan takut…minta petunjuk pada Allah, Jeng…. Cobalah tanya hati kecil mu, masih adakah yang tersisa untuk di pertahankan…? Ini sudah sangat kelewatan, temui semua saudara, Jeng. Ceritakan semua….! Jangan cuma diam”. Dia menjawab dengan isak dan tetesan air mata: “aku hanya malu ….”. Aku bertanya heran: “Malu pada siapa…???. Dia menjawab: “Pada jilbab ini, busana ini, pada orang-orang sekitar…terlebih lagi aku malu pada Allah”. Dia terdiam sejenak, lalu berkata lirih:”Selama ini, aku hanya selalu minta kekuatanNYA agar aku bisa menjadi WANITA SHALIHAH….”. Masih dengan terisak dia berkata parau: “Tapi sepertinya….aku sudah tidak lagi punya daya….hati ku sudah dihancurkannya, tak bersisa. Bahkan rasa cinta ini mulai pudar, tak lagi ada. Aku benar-benar sudah tak sanggup bertahan….”.
Aku menggigil…aku seperti tak punya lagi kekuatan untuk mendengar lagi kesedihannya….Ya Rabb…jagalah dia dari kesedihannya, hapuslah air matanya, bimbing dia dengan Aziz MU, bebaskan dia dari luka berkepanjangan yang dia alami. Tolong ya…Allah…rengkuh dia…beri petunjuk dan keadilan pada nya. Dia begitu baik…selama ini menjadi teladan bagi ku dan banyak orang disekitar kami.
Aku jadi malu pada diri sendiri. Wanita macam apa aku ini….masih sering mengeluh…mudah sedih….mudah tersinggung…hanya karena hal-hal yang remeh temeh…Ampuni aku, ya RABB… Dari nya aku banyak belajar…mungkin, dialah satu dari sekian banyak muslimah yang mu’minah sebenarnya. Aku belajar banyak dari kisahnya….Semoga pembaca juga bisa menjadikan ini bahan renungan…
Hanya ENGKAU lah pemilik sejati hati semua hamba…hanya ENGKAU yang berhak membuatnya sedih atau pun bahagia…tidak satu manusiapun atau makhluk MU yang lain kuasa untuk melukai dan menghancurkannya…seperti juga tak ada kuasa atas manusia dan makhluk manapun sanggup membuatnya tenteram dan bahagia. Hanya ENGKAU YANG BERKUASA….Beri dia ketentraman untuk berpikir jernih…agar bisa memutuskan yang terbaik bagi dia dan keluarganya…RABB….Hamba mohon…

Be Sociable, Share!
  1. No comments yet.
(will not be published)
*

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.


Skip to toolbar