Rumtar CAHAYA

Berangkat dari suatu keprihatinan menyaksikan pemandangan di sekitar kita yang sangat ironis hingga menyesak dada. Ketika begitu banyak anak usia sekolah dengan baju seragamnya kadang masih di jam-jam sekolah, tercecer di sudut-sudut gang, di ujung-ujung jalan, di pinggir perempatan-perempatan jalan, di pusat-pusat perbelanjaan, bahkan di tempat-tempat hiburan. Bila kita mau menengok lebih kedalam lagi…di warnet-warnet, banyak sekali pelajar, yang katanya “belajar” (mencari bahan tugas, dll) tenyata justru mengakses situs-situs yang….astaghfirullah hal ‘adziem…sungguh mencengangkan… Yang lebih parah lagi ketika begitu banyak anak usia Sekolah Dasar, meskipun pada hari-hari libur, lebih banyak menghabiskan uang jajan mereka, hanya untuk “play station” hingga bisa dibilang mereka seperti sudah kecanduan. ….Byuh…byuh….byuh….sungguh memprihatinkan.

Kegiatan semacam itu menjadi suatu budaya baru bagi anak-anak muda sekarang. Mereka mulai lupa dengan tanggung jawab dan tugas-tugas mereka yang sesungguhnya. Ibadah (shalat dan mengaji) dan belajar (membaca) mulai membosankan bagi mereka. Mulai dianggap sebagai momok yang mengerikan. Berinteraksi dengan lingkungan sekitar (keluarga, sekolah, dan masyarakat) menjadi aneh buat mereka. Lambat laun mereka akan menjadi pribadi yang tertutup, egois, tidak bermoral, dan liar.

Seoonggok tanya terbersit dalam benak:

  • siapa yang harus dipersalahkan ?
  • apanya yang salah ?
  • di mana letak kesalahan nya ?
  • kapan kesalahan itu terjadi ?
  • mengapa bisa terjadi ?
  • lantas, bagaimana menyelesaikannya ?

Mari kita cermati lebih dalam.

Melihat kenyataan yang dipaparkan di atas, menjadi sebuah panggilan hati dan kewajiban bagi kita bersama untuk mulai melakukan tindakan nyata menciptakan lingkungan pendidikan informal dalam bentuk sebuah Rumah Pintar. Ini akan menjadi penting dan bermanfaat bagi anak-anak usia sekolah khususnya untuk memblokir budaya nonton TV (acara-acara yang tidak jelas) dan kecanduan play station yang telah banyak menyita waktu belajar mereka dapat terus menerus dikurangi hingga dapat terblokir.

Keberadaan rumah pintar diharapkan juga dapat meningkatkan minat baca mereka hingga dapat memacu kreativitas dan memotivasi mereka untuk dapat meraih cita-cita nya. Bila mereka sudah larut dan tenggelam dengan kenikmatan membaca buku, maka hilangnya waktu untuk menonton TV dan bermain play station akan menjadi niscaya.

Saya beserta teman-teman sepemikiran, sevisi misi, sedang mempersiapkan mewujudkan nya. Mari bantu kami memberi ide-ide yang akan bisa mendukung kami untuk mimpi, niat, dan perjuangan suci kami ini.

(by: Yuni Nurjanah. February 8th ‘2010)

Be Sociable, Share!
  1. No comments yet.
(will not be published)
*

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.


Skip to toolbar